Punya Potensi, Tapi Kurang Percaya Diri

1 min read

Selamat pagi Ibu Mayke. Anak saya Keke (8), saya lihat kemampuannya cukup banyak. Misalnya suaranya bagus, senang membuat video lewat handphonenya juga hobi fotogra­fi. Misalnya ia membuat video tentang boneka-bonekanya, lalu diisi dengan narasi suaranya sendiri. Lalu hobi memotret yang kadang-kadang objeknya menimbulkan surprise. Misalnya, anak seumur dia sudah bisa mengambil objek ibu pemulung yang sedang menyusui anaknya.

Katanya dia temui sewaktu pulang sekolah. Tapi masalahnya Keke ini kurang percaya diri menunjukkan karya-karyanya. Saya minta ikut lomba nyanyi, tidak mau. Saya dorong foto-fotonya dicetak, dibingkai lalu dipasang di ruang keluarga, malah mencak-mencak sewot. Lalu videonya saya anjurkan unggah ke youtube, saya dicemberutin. Kenapa ya, Bu?.

Padahal saya mamanya bangga sekali, tapi kok anaknya seperti kurang percaya diri. Bagaimana jalan keluarnya ya, Bu? Saya bukan mau pamer anak, tapi supaya lebih mendorong dia untuk selalu berkarya. Mohon saran Ibu Mayke. Terima kasih. Ediyani Marzuki – Jakarta

Menarik sekali karena di usia muda Keke mempunyai hobi yang berkaitan dengan fotogra­ dan membuat video, kemungkinan besar bakat seninya tinggi. Selaku ibunya, Anda penasaran, kenapa dia tidak mau memperlihatkan kebolehannya pada orang lain. Akan tetapi memang ada anak-anak yang low pro­file, tidak ingin menonjolkan diri, semakin disuruh oleh ibunya, semakin menolak.

Jadi untuk sementara waktu tidak usah memaksanya untuk memamerkan kebolehannya. Cukup memberi penghargaan akan karyanya, nyatakan ibu atau ayah kagum akan hasil kerjanya. Hindari pemberian pujian yang berlebihan, anak semacam Keke ingin diperlakukan secara tulus, apa adanya.

Coba hubungi guru Bimbingan Konseling atau Guru Seni , biarkan mereka yang membimbing Keke untuk mengembangkan potensinya, mengajak ikut lomba fotografi­ , mengirimkan hasil jepretannya ke majalah dan seterusnya. Saya pun bertanya-tanya, bagaimana relasi ayah, ibu, dengan Keke.

Nampaknya tidak terlampau dekat, cobalah dikaji lagi, bagaimana penanganan orangtua pada Keke, apakah sejak dia kecil orangtua cenderung memaksa anak, banyak memberikan nasihat, memberikan judgment negatif sehingga anak merasa tidak nyaman pada orangtuanya? Sekian mengenai Keke, saya berharap Ibu Ediyani dapat mengubah cara memperlakukan anak dengan tulus dan tidak memaksakan kehendak pada anak. Biarkan dia yang menemukan dan memutuskan sendiri, apa yang akan dia lakukan dengan dirinya. Salam.

Dapatkan informasi lebih lanjut mengenai cara mendidik anak di situs parenting dan pendidikan anak yang bisa diakses secara online.